Salam komunikasi, rekan-rekan pembaca sekalian.
Dunia media dan jurnalistik saat ini sedang berada di persimpangan jalan
yang sangat dinamis. Perubahan teknologi, pergeseran perilaku audiens, hingga
tantangan etika baru menuntut kita untuk tidak hanya menjadi praktisi yang
adaptif, tetapi juga pemikir yang mampu menawarkan solusi fundamental.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, saat ini saya sedang mengawal
proses publikasi penelitian terbaru saya yang bertajuk "The Harliantara
Model".
Mengapa "The Harliantara
Model"?
Model ini lahir dari refleksi panjang dan riset mendalam mengenai
bagaimana ekosistem jurnalistik dan media seharusnya beroperasi di era
disrupsi. Saya meyakini bahwa kita memerlukan kerangka kerja yang lebih kokoh
untuk menjembatani antara idealisme jurnalisme dengan realitas industri media
modern.
Melangkah ke Jurnal Scopus: Journalism and Media
Saat ini,
penelitian ini sedang dalam proses menuju publikasi di Journalism and Media,
sebuah jurnal internasional bereputasi yang terindeks di Scopus. Mengapa
ini penting?
- Validasi Akademik: Memastikan model ini telah
melalui proses peer-review yang ketat oleh para ahli di bidangnya.
- Kontribusi Pemikiran: Membawa perspektif lokal
dan pemikiran dari Indonesia ke kancah diskursus media global.
- Implementasi Praktis: Harapan saya, model ini
nantinya tidak hanya menjadi tumpukan kertas di perpustakaan, tetapi
menjadi panduan praktis bagi institusi media dan pendidikan komunikasi.
Apa Harapan ke Depannya?
Publikasi ini adalah langkah awal. The Harliantara Model
dirancang untuk memicu diskusi lebih lanjut, kritik yang membangun, dan
kolaborasi antar akademisi maupun praktisi. Saya ingin kita semua memiliki
standar yang lebih baik dalam melihat bagaimana media mengonstruksi realitas
sosial kita.
Saya mohon doa restu dan dukungan dari rekan-rekan semua agar proses
publikasi ini berjalan lancar. Saya akan terus memperbarui perkembangan riset
ini.
Mari terus berkarya demi kemajuan dunia komunikasi Indonesia!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar